Asertif

A : Ikut kita main game on line yuk?
B : Yuk! (untuk pertama kali ini, dead line tugas-tugas mandiri gw masih lama)

Hari berikutnya…
A : Berani tanding ga? Yuk?
B : Hmm gimana ya… ya siapa takut! (tugas gw msh 2 hari lagi kok, terkejar deh)

Malam sebelum mengumpul tugas…
A : Lu, ditantangin tuh ma teman gw, masak lu ga berani sih, jangan cemen!
B : Gimana ya, hmm… ya udah, mana teman lu?! (ntar malam deh ngerjainnya)

Namun pertandingannya sampai pagi dan B tidak mengerjakan tugas mandirinya. Pada akhirnya nilai TM B tidak ada.

B tidak berani menolak temannya, B khawatir bila A tidak mau berteman dengannya lagi. Kadang-kadang mahasiswa tidak suka jika disebut sebagai mahasiswa yang rajin belajar dan pintar. Pembentukan bad image yang tidak tahu bermula dari kapan, tapi itulah yang sering kita dengar di kalangan mahasiswa.
Salah satu penyebab kegagalan akademis mahasiswa saat ini (yang nota bene mahasiswa gaul) adalah komunikasi asertif. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya.

 

==Pasif, Agresif, Asertif==

Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, tidak setiap saat kita mendapat stimulus yang positif, terkadang kita mendapati stimulus yang negatif, stimulus negatif menimbulkan perasaan negatif seperti pada kasus B , stimulus negatif buat B adalah temannya mengajak dia bermain games (padahal tugasnya belum selesai), perasaan negatif B adalah merasa ditantang dan pengen membuktikan (di satu sisi B menimbang antara ajakan atau mengerjakan tugas mandiri). Ada tiga bentuk respon penting untuk mencegah perasaan negatif, yaitu :

  • Pertama, kita bisa menghambat ekspresi dari perasaan negatif dengan tidak mengatakan apa pun, atau menggerutu dalam hati yang sama sekali tidak dipahami orang lain (berarti kita pasif).
  • Kedua, kita dapat menyerang lawan bicara kita dengan kata-kata keras, kasar atau bahkan melecehkan, merendahkan, menyalah-nyalahkan orang yang kita ajak bicara (berarti kita agresif).
  • Ketiga, kita akan langsung mengungkapkan perasaan negatif secara spontan dan sesuai dengan kondisi yang kita rasakan, tanpa menyalahkan orang yang kita ajak bicara (berarti kita asertif).

Dalam interaksi dengan orang lain, pengaruh masa kecil tidak dapat diabaikan, sehingga ada kerangka kerja interaktif masa kecil yang melandasi ketiga pilihan tersebut di atas.

 

Maka kemudian terbentuk pola interaktif sebagai berikut:

  •  I am not OK-You are OK. Saya akan berhati-hati dalam mengungkapkan apa pun terhadap perilakumu, karena saya harus yakin bahwa apa yang saya katakan tidak akan mengganggu perasaanmu dan membuatmu jengkel dan marah. Saya merasa yakin tidak akan menyerang kamu, dan membuat kamu merasa tidak nyaman. Disini kita bersikap pasif.
  • I am OK-You are not OK. Cara ini membuat kita merasa lebih baik, dan orang lain kurang baik, sehingga orang lain tersebut patut mendapat luapan kemarahan dan cercaan dari kita. Dalam hal ini kita bersikap agresif dan menyerang, sehingga akan membuat orang lain merasa tidak nyaman oleh serangan kita. Disini kita bersikap agresif.
  • I am OK-You are OK. Kita dengan bebas meluapkan perasaan apa pun yang kita rasakan, dan kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap perasaan kita. Kita tidak akan membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi kita, tetapi orang lain pun memiliki kebebasan untuk mengungkap apa yang dirasakan. Kita tidak akan menyerang orang lain, bahkan akan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka. Ini adalah cara pengungkapan perasaan secara asertif.

Jadi, dengan cara asertif maka kedua belah pihak yang berkomunikasi merasa nyaman, tidak ada yang merasa disakiti hatinya dan tidak ada pula yang merasa ingin menyakiti lawan bicaranya. Namun dapat tercipta saling pengertian yang memudahkan pengambilan keputusan dan dirasakan adil bagi semua pihak.

 

==Apakah bedanya dengan agresif dan non-asertif?==

Seseorang dikatakan asertif bila ia mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak merugikan atau mengancam integritas pihak lain. Sedangkan dalam agresif, ekspresi yang dikemukakan justru terkesan melecehkan, menghina, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain sehingga tidak ada rasa saling menghargai dalam interaksi atau komunikasi tersebut.

Sikap ataupun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal ataupun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.

Seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/ keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif.

 

==Mengapa orang enggan bersikap asertif?==

Kebanyakan orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu alasan untuk mempertahankan kelangsungan hubungan juga sering menjadi alasan karena salah satu pihak tidak ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan membiarkan diri untuk bersikap non-asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat), justru akan mengancam hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan merasa dimanfaatkan oleh pihak lain.

Timbul pertanyaan, bagaimana cara praktis untuk dapat mengekspresikan emosi negatif secara asertif?

Ekspresi asertif pada umumnya mengandung unsur yang dapat kita katakan sebagai berita tentang aku, seperti saya sebal, saya kesal, saya marah. Dalam berita tentang aku terkandung makna bahwa saya mempunyai perasaan dan perasaan saya adalah tanggung jawab saya.

Sebaliknya ekspresi agresif selalu mengandung unsur berita tentang kamu, karena seseorang diserang atau diberi sebutan yang bermakna negatif. Kamu seharusnya tidak melakukan hal itu atau kamu orang jahat, atau kamu bloon. Apabila kemarahan sudah memuncak, biasanya seseorang akan lebih sering menggunakan komunikasi yang didominasi oleh berita tentang kamu.

Sementara itu komunikasi asertif tidak sama dengan komunikasi agresif, karena dalam asertif terjadi suatu ungkapan yang langsung, jujur, dan secara spontan mengekspresikan segala macam perasaan yang ada, namun dengan cara tertentu yang membuat lawan bicara tidak akan terpancing untuk memberikan respons yang emosional pula.
Oleh karena seorang yang asertif tidak akan pernah menyertakan berita tentang kamu. Jadi tidak ada yang merasa disalahkan dan dicerca oleh keberadaan emosi negatif secara agresif, dari apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya tersebut.

 

==Seberapa asertif-kah Anda ?==

Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri Anda sendiri yang dapat menjadi indikator asertivitas.

  • Apakah Anda terbiasa mengekspresikan secara jelas perasaan atau pandangan Anda pada orang lain?
  • Apakah Anda meminta tolong pada orang lain pada saat Anda memang membutuhkan pertolongan?
  • Apakah Anda mampu mengekspresikan kemarahan atau pun rasa tidak enak Anda secara proporsional pada pihak lain yang telah membuat Anda merasa sakit hati?
  • Apakah Anda suka bertanya pada orang lain pada saat menghadapi kebingungan?
  • Apakah Anda mampu memberikan pandangan secara terbuka saat Anda merasa tidak sepaham dengan pendapat orang lain?
  • Apakah Anda sering berbicara di depan kelas/ umum?
  • Apakah Anda mampu untuk berkata tidak pada saat Anda tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut?
  • Apakah Anda berbicara dengan sikap percaya diri, serta berkomunikasi secara hangat?
  • Apakah Anda memandang wajah lawan bicara Anda pada saat Anda berbicara dengannya?

==Tips untuk bersikap assertif==

Tips untuk mampu mengatakan tidak terhadap permintaan yang tidak diinginkan:

  1. Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
  2. Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
  3. Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
  4. Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan tidak untuk penolakan, dari pada sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat.. .saya kurang bisa…..
  5. Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan bahasa yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda…Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
  6. Gunakan kata-kata Saya tidak akan…. atau Saya sudah memutuskan untuk….. dari pada Saya sulit….. Karena kata-kata Saya sudah memutuskan untuk…. lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
  7.  Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
  8. Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)…Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : Saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu, tapi terus terang saya sudah memutuskan untuk …
  9. Janganlah mudah merasa bersalah! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain atau atas kebahagiaan orang lain, bukan?
  10. Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.

(Dari berbagai sumber)

One thought on “Asertif

  1. mahd says:

    sebenarnya bagus sih! tapi kasih
    contoh-contoh asertiv lainnya dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s